NEFAnews.com – Warna pakaian adat Bolaang Mongondow “Lanut” yang terdiri dari Baniang untuk laki – laki, dan Salu untuk perempuan, memiliki warna ornamen yang melambangkan kekayaan alam sekaligus menjadi simbol karakter masyarakat adat Tanah Totabuan.
Menurut Ketua Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow (Amabom), Jainul Z.A. Lantong., semua warna dapat kita temui pada pakaian adat Bolaang Mongondow Raya (BMR).
“Hampir semua warna yang terdapat pada pakaian adat BMR baik Baniang maupun Salu, memiliki arti khusus seperti warna Kuning melambangkan kekayaan alam berupa Emas dan Padi, Biru melambangkan kekayaan alam laut, Hijau melambangkan vegetasi perkebunan, Coklat melambangkan elevasi pegunungan dan lembah sekaligus hasil kekayaan hutan, Hitam melambangkan kekuatan yang abadi, Merah melambangkan keberanian, Putih melambangkan ketulusan dan keikhlasan sekaligus kesucian dan kedekatan kepada Sang Pencipta”, ujar Ketua Amabom saat memberikan materi dalam rangka penguatan kelembagaan masyarakat adat di Balai Pertemuan Umum Desa Moyag, Kecamatan Kotamobagu Timur, Jumat, (26/9/2025).
Ia berharap, warna pakaian adat BMR wajib dijaga keasliannya serta tidak berubah warna berdasarkan warna politik.
“Keberadaan adat istiadat telah ada terlebih dahulu jauh sebelum hadirnya agama, bahkan sebelum negara Indonesia dan daerah ini terbentuk, sehingga aturan dan segala sesuatu yang melekat pada adat termasuk warna dan simbol pada pakaian adat harus kita jaga dan hormati, jangan sampai berganti warna mengikuti warna politik”, ucapnya.
Sementara itu, Panglima Brigade Bogani BMR, Dr. Muliadi Mokodompit, menambahkan adat dan budaya dijadikan sebagai landasan pembangunan karakter masyarakat adat suatu negara.
“Kita belajar dari negara Jepang yang adat dan budayanya masih terpelihara dengan baik. Bahkan Jepang adalah salah satu negara yang mampu menempatkan adat/budaya sebagai landasan pembangunan karakter sehingga politik tidak dapat masuk terlalu jauh didalam ruang kekuasaan atau mengkondisikan adat dan ornamen sesuai warna politik”, tandas Panglima Brigade Bogani yang memiliki pengalaman Studi Course Doktoral di Saga University Jepang.

Untuk diketahui, pakaian adat Bolaang Mongondow adalah “Lanut” yang terdiri dari pakaian pria Baniang (atasan) dan celana panjang, dan pakaian wanita Salu (kebaya/atasa dengan sarung berkotak. Pakaian adat ini terbuat dari kulit kayu atau pelepah nanas, dengan aksesoris seperti destar, ikat pinggang, dan hiasan emas untuk bangsawan, serta sanggul dan hiasan bunga untuk wanita.
**










