NEFAnews.com, BOLTIM – Fenomena hilangnya Tabung Gas Elpiji 3kg bersubsidi di pasaran mulai dikeluhkan dan dipertanyakan masyarakat umum.
Kelangkaan tabung gas elpiji 3kg bersubsidi ini pun memicu kepanikan dikalangan masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan tabung gas elpiji untuk keperluan sehari -hari.
Dampak lain bagi masyarakat, mengakibatkan lumpuhnya UMKM kuliner, lonjakan harga di tingkat pengecer, hingga terganggunya aktivitas dapur rumah tangga
Situasi ini juga akan memicu antrean panjang, berpotensi beralih ke bahan bakar alternatif (kayu bakar) yang tidak ramah lingkungan.
Di desa Bongkudai misalnya, masyarakat tampak terlihat wara wiri sambil membawa tabung gas kosong berkeliling dari desa ke desa hingga ke pusat kota hanya untuk mencari keberadaan tabung gas.
Hikmah Mamonto misalnya, Dirinya mengaku terpaksa membeli sayur masak karena sudah dua hari tidak memperoleh tabung gas.
“Kita so nda dapa. Dorang bilang so abis. Kong so dua hari cuma ba bili sayor sementara kasiang torang penghasilan pas – pasan “Dibaca: Saya tidak mendapatkan tabung gas. Sudah dua hari membeli sayur masak sementara penghasilan kami pas – pasan,” ucapnya lirih.
Berbeda dengan Naning Warga Desa Bongkudai Ia pun mengaku tidak mendapatkan tabung gas setelah hampir seharian berkeliling hingga ke pusat kota.
Ia pun mengaku sempat berpikir untuk menggunakan tungku kayu bakar jika beberapa hari kedepan belum juga mendapatkan tabung gas.
“Kalo sampe besok kong nda ba dapa terpaksa somo ba masak di dodika “Dibaca: Jika sampe besok belum juga mendapatkan tabung gas, terpaksa masak menggunakan Perapian dari Tungku Ayu Api,” keluh Naning kesal.
Ia berharap pemerintah bisa melihat kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat.
Sementara itu, Penji pemilik Pangkalan gas elpiji Karya Bersama, saat ditemui media kami, pihaknya mengaku kebingungan melayani pembeli sementara kuota sangat terbatas.
“Jujur kami bingung dan dilema saat melayani masyarakat yang datang dengan bermacam-macam keluhan. Sehingga kami memutuskan untuk melayani siap yang lebih dahulu mengantri,” ujar Penji.
Ia mengungkapkan pihaknya hanya memperoleh 80 kuota yang dinilainya sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk dan rumah tangga di desanya.
“Kuota ini sangat tidak mungkin memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara masyarakat pengguna jauh lebih banyak. Terlbih lagi pangkalan hanya menerima jatah 80 tabung saja, itupun hanya sekali dalam seminggu, sudah pasti jumlah ini tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkap Penji.
Ia berharap pemerintah dapat memperhatikan keluhan masyarakat dan dapat mengupayakan kuota tambahan bagi pangkalan agar bisa melayani kebutuhan masyatakat.
“Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi hati ini, masyarakat kesulitan mendapatkan tabung gas, Begitu bagi pangkalan semoga pemerintah dapat mengupayakan penambahan kuota agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkasny
Berdasarkan data yang kami peroleh, di desa Bongkudai bersatu yang berjumlah empat desa masing-masing hanya memiliki satu pangkalan saja. Sementara terdapat satu pangkalan yang sudah tidak lagi beroperasi sejak lama, sehingga kuota semakin berkurang.
Masyarakat meminta agar pemerintah bisa turun tangan terkait adanya pangkalan yang tidak aktif.
Masyarakat juga berharap kepada pemerintah agar menambah kuota. Mengingat kuota saat ini terbilang jauh dari kata cukup, dimana empat pangkalan yang tersebar di empat desa masing-masing hanya memperoleh 80 tabung yang dipastikan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Bongkudai Bersatu yang jumlah penduduknya hampir 5000 jiwa.
Dee.










