NEFANEWS.COM, Kotamobagu – Wali Kota Kotamobagu, dr. Weny Gaib., di dampingi Ketua TP-PKK Kota Kotamobagu, Ny. Rindah Gaib., menghadiri Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak yang berlangsung di ruang pertemuan Sanggar Kesenian dan Budaya (SKB) Gogagoman, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan yang dihadiri Sekretaris Daerah Kota Kotamobagu, Sofyan Mokoginta, Para Asisten dan OPD terkait tersebut mengusung tema; “Dampak Pola Asuh Terhadap Psikologi dan Karakter Anak”
Dalam arahannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada dinas Pelindungan Anak Kota Kotamogu dan TP-PKK kotamobagu yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Selanjutnya, Wali Kota menyampaikan arahanya terkait terkait pola asuh dan dan pembentukan karakter anak melalui lingkungan ramah dan enuh kasih sayang.
“Anak2 dapat tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Sebab lingkungan yang ramah dapat memberi dampak positif pada pola asuh dan pembentukan karakter anak” ujar Wali Kota.
Wali Kota juga menekankan pentingnya perhatian dan kasih sayang agar membawa pengaruh baik terhadap psikologi anak
“Jadikan rumah dan lingkungan sekitar sebagai ruang yang paling nyaman dan ramah serta lakukan komunikasi interaksi serta perhatian terhap anak agar dapat menanamkan nilai moral terhadap anak” ucap Wali Kota.
Di akhir sambutan, Wali Kota berharap sosialisasi tersebut buka hanya sekedar seremonial, tetapi dapat memberi dampak positif bagi perkembangan dan pertumbuhan anak, serta dapat menyampaikan informasi ini kepada semua keluarga dan masyarakat terkait pola asuh yang baik terhadap anak – anak.
Peserta 125 orang terdiri dari perwakilan anak didik dari berbagai sekolah di Kota Kotamobagu, Para Guru pendamping, dan perkwakilan Karang Taruna Kota Kotamobagu, Camat Kotamobagu Utara.
Berikut empat pola asuh yang menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter, kepribadian, serta kesehatan mental anak.
1. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian)
Pola asuh ini menerapkan kendali penuh dengan standar disiplin yang sangat ketat. Orang tua menuntut kepatuhan mutlak tanpa ruang untuk berdiskusi.
• Karakteristik: Banyak aturan keras, minim kehangatan, dan sering menggunakan hukuman.
• Pembentukan Karakter: Anak tumbuh menjadi pribadi yang patuh namun memiliki kecemasan tinggi, kurang percaya diri, dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang rendah. Mereka juga rentan menjadi agresif atau pemberontak di luar rumah karena memendam emosi negatif.
2. Pola Asuh Otoritatif (Authoritative / Demokratis)
Ini merupakan pola asuh paling ideal yang menyeimbangkan antara aturan tegas dan kasih sayang. Orang tua bersikap suportif dan mendengarkan sudut pandang anak sebelum mengambil keputusan.
• Karakteristik: Komunikasi dua arah, batasan perilaku yang jelas, serta responsif terhadap kebutuhan emosional anak.
• Pembentukan Karakter: Anak berkembang menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, percaya diri, memiliki kontrol diri yang baik, serta mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
3. Pola Asuh Permisif (Indulgent)
Orang tua dengan pola asuh ini cenderung sangat memanjakan anak dan enggan memberikan batasan atau konsekuensi. Mereka lebih memosisikan diri sebagai teman daripada figur otoritas.
• Karakteristik: Kehangatan sangat tinggi tetapi sangat minim aturan dan tuntutan.
• Pembentukan Karakter: Anak berisiko tumbuh dengan karakter yang egois, kurang disiplin, dan sulit mengendalikan diri. Mereka sering mengalami kesulitan dalam mengikuti aturan di sekolah atau lingkungan sosial karena terbiasa mendapatkan semua keinginannya.
4. Pola Asuh Acuh Tak Acuh (Neglectful / Uninvolved)
Orang tua sama sekali tidak terlibat dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional. Mereka hanya memenuhi kebutuhan materi atau biologis dasar seperti makanan dan pakaian.
• Karakteristik: Tidak ada aturan, tidak ada bimbingan, dan tidak ada kehangatan atau perhatian.
• Pembentukan Karakter: Anak bentukan pola asuh ini cenderung memiliki harga diri yang sangat rendah, merasa tidak berharga, dan emosi yang tidak stabil. Mereka juga kerap mengalami masalah akademik di sekolah serta kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat saat dewasa.
Dee.









