Bupati Bolmong Dukung Usulan Koridor Ekologis Muara Pusian Seluas 2.279 Hektar di Kawasan Taman Nasional BONAWA

Suasana kegiatan Lokakarya yang dihadiri Bupati Bolmong, Yusra Alhabsyi.

NEFANEWS.COM, Bolmong – Pemerintah Kabupaten Bolmong Komitmen Jaga Kelestarian Lingkungan, sekaligus mendukung Pengusulan Koridor Ekologis Muara Pusian (KEMP) Seluas 2.279 Hektar di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BONAWA).

Dukungan ini ditandai dengan kehadiran Bupati Bolaang Mongondow, Yusra Alhabsyi, dalam Lokakarya Finalisasi Dokumen Kajian Teknis Pengusulan KEMP, yang digagas Balai Taman Nasional BONAWA Bolmong, di Hotel Sutanraja, Kotamobagu. Senin (24/6/1016).

Dalam arahannya, Bupati menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam upaya memulihkan fungsi alam yang dinilai akan membawa manfaat jangka panjang bagi daerah dan masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan ini, Bupati juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum pembahasan dokumen kajian teknis koridor tersebut, agar inisiatif pelestarian diseriusi oleh semua pihak.

“Wilayah Bolmong itu 70 lebih persen adalah hutan. Sebagian besar kehidupan orang Bolmong sangat tergantung pada hutan,” ujar Bupati Yusra.

Ia tidak memungkiri bahwa saat ini kondisi hutan di wilayah Bolmong sedang terganggu. Selama ini, banyak pihak yang baru menyadari besarnya tingkat eksploitasi terhadap kawasan tersebut. Padahal, menurut Bupati, di dalam hutan terdapat sumber kehidupan yang nyata bagi masyarakat.

“Ini adalah upaya konkrit untuk meletakkan kembali fungsi hutan. Saya berharap lokakarya ini melahirkan rekomendasi yang mampu kita tindaklanjuti bersama demi manfaat bagi daerah,” tegasnya.

Adapun inisiatif pengusulan area preservasi koridor ekologis ini merupakan hasil kolaborasi multipihak yang mendapatkan dukungan pendanaan dari UK FCDO dan Global Green Growth Institute (GGGI), serta diimplementasikan secara langsung oleh Wildlife Conservation Society Program Indonesia (WCS-PI).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Decky Hendra Prasetya, menjelaskan bahwa koridor ekologis ini dirancang untuk menjaga konektivitas antara kawasan TNBNW dengan kawasan hutan di sekitarnya. Fungsinya sangat krusial, terutama sebagai area jelajah satwa kunci, guna mempertahankan kelestarian satwa dan keseimbangan lingkungan hidup.

“Maleo merupakan ikon daerah yang harus kita jaga bersama,” ungkap Decky.

Decky menambahkan, proses penyusunan dokumen kajian teknis ini telah melewati beberapa tahapan komprehensif dengan dukungan berbagai pihak dan mitra, termasuk keterlibatan aktif pemerintah daerah sejak tahun 2025 lalu.

Area preservasi yang diusulkan saat ini memiliki luasan mencapai 2.279,85 hektar. Sebagai bentuk pelibatan masyarakat, tahapan sosialisasi kepada warga di lima desa penyangga juga telah sukses dilaksanakan pada Oktober 2025.

“Semoga terbangun kesepahaman bersama dalam pengelolaan koridor ekologis ini. Setelah lokakarya ini selesai, dokumen penetapan koridor akan langsung diusulkan ke tingkat kementerian,” ucap Deky. */Dee.

 

banner1

Pos terkait