NEFANEWS.COM. Suasana duka masih menyelimuti Keluarga Tasyrik Damopolii., saat media kami berkunjung di rumah duka Desa Bintau, Kecamatan Passi, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).
Rumah sederhana yang terletak di sudut Desa Bintau ini, ditempuh dengan melewati jalan aspal yang mungkin telah dikerjakan cukup lama sehingga nampak lubang menganga dan bebatuan serta kerikil berserakan sehingga perjalanan kami sedikit lambat untuk sampai di rumah duka.
Sesampainya kami (saya dan teman sesama profesi sebagai pewarta) dirumah duka, tampak keluarga dengan wajah sedih bahkan beberapa diantaranya terlihat sembab usai menangis meratapi kepergian dua kakak beradik yakni Romi dan Roma., korban yang meninggal akibat menghirup zat asam di wilayah pertambangan di Desa Tanoyan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.
Kami langsung disambut baik keluarga duka. Dipersilahkan duduk dan menanyakan maksud dan tujuan kami.
Tak berselang lama, ayah korban pun keluar menghampiri didampingi kerabat menyapa dengan raut wajah yang memelas.
“Maaf jika kedatangan kami belum memungkinkan dan tidak tepat waktu,” ucapku dengan nada merendah.
Tak apa, dengan siapa dan darimana?, sambut ayah korban sambil perlahan menarik kursi yang mulai reot disebelah kami.
Kami dari media. Bisakah kami mewawancarai bapak jika tidak keberatan, ujarku sambil mengulurkan tangan.
Sebelum wawancara dimulai kami awali dengan ucapan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya.
Belum sempat kami memulai wawancara, pria yang tampak rapuh berperawakan kecil ini pun lebih dahulu menyampaikan kesedihannya dengan tatapan kosong.
“Ini ujian paling berat bagi saya, kehilangan dua putra bersamaan, padahal kemarin kami baru saja melaksanakan doa arwah untuk mendiang ibu mereka,” ungkap Tasyrik ayah korban sambil mengusap air mata dengan dua tangan yang terlihat sedikit gemetar.
Pria yang kesehariannya dihabiskan untuk berkebun demi menghidupkan keluarga ini pun kembali melanjutkan ceritanya dengan nada lirih nakmun penuh emosi, ia mengaku sangat terpukul dihadapkan kematian kedua anaknya yang menurutnya adalah anak-anak yang sangat penurut dan berbakti kepada kedua orangtua.
“Ini ujian terberat bagi saya sepanjang hidup. Saya baru kehilangan istri. Dan kemarin dikagetkan kematian dua orang putra yang sangat penurut dan menghormati orangtua,” lanjut pria yang memiliki nama lengkap Tasrik Damopolii.
Saat ayah korban terdiam seolah kembali mengingat masa-masa bersama kedua putranya, kami pun mencoba bertanya apakah ada pertanda atau gelagat untuk kedua putranya menjelang hari – hari terakhir.
“Pertanda atau gelagat tidak ada, nakmun yang saya sesalkan pertemuan kami yang begitu singkat di pagi itu saat keduanya akan pamit hendak pergi bekerja, dan saat itu juga saya pamit hendak ke kebun untuk beberapa hari. Tak banyak yang dibicarakan hanya menutup pesan kepada mereka untuk bekerja dengan baik dan selalu hati – hati,” ucap Tasrik sambil meremas dadanya seolah menahan sesak yang tak terbendung.
Setelah sedikit tenang, kami pun menanyakan apakah kematian kedua putranya meningalkan persoalan mengingat pemberitaan yang santer memberitakan keterkaitan pemilik lahan.
“Saya sudah ikhlas. Kematian rahasia Tuhan, dan ini kecelakaan murni yang sudah kehendak yang maha kuasa,” gumam Tasrik sambil menatap keranda yang masih terpasang di dalam rumah.
Kematian kedua puteranya menurut Tasryik baru diketahui saat membuka kain penutup jenazah yang terbujur kamu diatas tempat tidur.
“Saya diberi tahu keluarga untuk segera pulang ada hal penting disampaikan. Setiba dirumah ada kerumunan orang, saya berpikir ada kejadian lain yang yerjadi. Namun melihat semua orang menangis dan berurai air mata saat menatap kehadiran saya, pikiranku pun langsung tak karua dan penuh tanya. Saya baru mengetahui sendiri saat memasuki kamar dan perlahan membuka kain penutup yang menutupi wajah kedua putera saya. Saat itu pun dunia bagai kiamat tak mampu melihat wajah kedua anak – anak saya,” tutur Tasyrik dengan nada mulai mengecil dan menahan isak tangis.
Suasana pun tiba-tiba hening dan semua mata terkesimak saat mendengar penuturan ayah sekaligus kakek yang hanya terdiam sambil menundukan kepala.
Sementara, salah satu anggota keluarga, Sutanto Mokodongan menambahkan jika pihak keluarga dan pemilik lahan telah bersepakat untuk berdamai, sambil menatap sosok anak kecil yang tiba – tiba muncul dihadapan kami sambil meminta seorang wanita yang mengenakan kain putih (Lutu dalam bahasa daerah Mongondow) yang melingkar di lehernya pertanda sedang berduka.
“Ini adalah anak ketiga dari almarhum Romi,” tutur Sutanto singkat.
Usai berbincang, terkait tragedi kematian Roma dan Romi., yang sempat menggemparkan dunia Maya, tak lama kemudian kami pun berpamitan pulang.
Ada kesan yang sempat tertangkap saat pertemuan kami dengan pihak keluarga korban saat kemunculan sesosok anak kecil kira – kira berumur 3 tahun yang terlihat santai dan asyik dengan mainan motor kecil ditangannya.
Anak sekecil itu belum memahami atas apa yang menimpah keluarganya. Dia kedua kakaknya masih terlalu kecil untuk memahami kepergian sosok ayah untuk selama-lamanya. Kelak, mereka akan paham betapa berartinya peran dan kehadiran sosok sang ayah.
Begitu pun sosok perempuan yang sedari tadi hanya terdiam membisu selama pembicaraan berlangsung. Dirinya seperti sedang memikirkan nasibnya dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil setelah kematian sosok suami yang menjadi tulang punggung keluarga.
Ada banyak beban dan tanggungjawab yang menanti didepan yang akan emban oleh seorang kakek ayah kedua korban.
Ada status dan beban tanggungjawab yang akan diembang seorang ibu dari ketiga anak dari almarhum Romi.
Dee.











