NEFAnews.Com BOLMUT — Baru sekitar sebulan pekerjaan Pemeliharaan Jalan Trans Sulawesi ruas Maelag–Biontong–Atinggola berjalan, kondisi sejumlah bagian jalan kini menuai sorotan masyarakat. Proyek yang disebut memiliki nilai anggaran sekitar Rp27,6 miliar tersebut dipertanyakan dari sisi kualitas pekerjaan dan ketahanan hasil pemeliharaan.
Sorotan publik menguat setelah kondisi jalan di sejumlah titik dinilai sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, padahal pekerjaan tersebut masih tergolong baru. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah kualitas pekerjaan telah sesuai dengan spesifikasi teknis dan standar yang dipersyaratkan dalam kontrak?
Persoalan tersebut kini menjadi perhatian terhadap Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) wilayah Sulawesi selaku pihak yang memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan jalan nasional.
Masyarakat meminta agar pengawasan terhadap proyek bernilai miliaran rupiah tersebut tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi juga benar-benar memastikan kualitas pekerjaan di lapangan.
APH Diminta Tak Tutup Mata
Sejumlah pihak juga mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Jika kemudian ditemukan adanya indikasi pelanggaran, ketidaksesuaian spesifikasi, atau persoalan lain dalam pelaksanaan proyek, maka proses pemeriksaan dinilai perlu dilakukan secara transparan sesuai ketentuan hukum.
Namun demikian, hingga saat ini belum dapat disimpulkan adanya pelanggaran hukum maupun penyimpangan anggaran. Kondisi jalan yang memprihatinkan dan keluhan masyarakat tersebut masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan teknis serta penjelasan resmi dari pihak berwenang.
Publik juga berharap proyek pemeliharaan jalan dengan nilai anggaran yang cukup besar tersebut dapat memberikan manfaat nyata dan tidak sekadar menjadi pekerjaan yang cepat selesai tetapi kembali mengalami kerusakan dalam waktu singkat.
BPJN dan Kontraktor Belum Memberikan Klarifikasi
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak BPJN maupun kontraktor pelaksana terkait kondisi pekerjaan yang menjadi sorotan tersebut.
Media ini masih terus berupaya mendapatkan konfirmasi dan keterangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam proyek, termasuk mengenai nilai kontrak, masa pelaksanaan, metode pemeliharaan, standar teknis pekerjaan, serta langkah evaluasi terhadap kondisi jalan di lapangan.
Konfirmasi dari pihak BPJN dan kontraktor akan menjadi bagian penting dalam pemberitaan berikutnya sebagai bentuk keberimbangan dan hak jawab.
Publik kini menunggu satu hal sederhana: dengan anggaran Rp27,6 miliar, apakah kualitas jalan tersebut benar-benar mampu bertahan sesuai umur layanan yang dipersyaratkan?









