Tamparan Keras untuk Pemprov Sulut & BPJN: Warga Paruh Baya Cor Jalan Trans Sulawesi Pakai Uang Sendiri!

NEFAnews.Com BOLMUT — Di bawah terik matahari Jalan Trans Sulawesi, Sabtu (5/9/2026), seorang lelaki hampir berusia 60 tahun berdiri di tepi jalan. Bukan sebagai pejabat, bukan sebagai pekerja proyek, melainkan sebagai warga yang memilih peduli.

Namanya Husain Yusuf, warga Desa Bolangitang 1, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Dengan ember kecil, semen, pasir, kerikil, dan sebuah bentor, Husain mengaduk adonan beton untuk menutup ceruk yang menganga di KM 272 arah Manado.

Keringatnya jatuh di atas aspal, sementara kendaraan terus melintas di sampingnya.

Tidak ada seragam proyek.
Tidak ada upah.
Tidak ada perintah.

Yang ada hanya kepedulian.

Husain mengaku sudah lima kali menimbun kerusakan itu menggunakan tanah domato (Tanah Pilihan). Namun lubang kembali menganga.

Keresahannya semakin dalam setelah seorang ibu hamil sekitar enam bulan terjatuh dari sepeda motor akibat roda kendaraan masuk ke ceruk tersebut. Korban mengalami pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit.

“Ini sudah keenam kalinya. Lima kali sebelumnya saya hanya timbun pakai domato. Kali ini saya beli semen,” ujar Husain.

Dua sak semen dibelinya menggunakan uang sendiri. Satu sak lainnya diberikan warga yang ikut prihatin.

Ironis. Di jalan yang menjadi urat nadi masyarakat, seorang warga justru harus menjadi tangan pertama yang menutup luka aspal.

Aksi Husain menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk segera melihat kondisi tersebut.

Sebab jalan bukan sekadar aspal dan beton.

Di atasnya ada kehidupan.

Ada anak yang pulang sekolah, pekerja yang mencari nafkah, keluarga yang bepergian, dan ibu yang membawa harapan di dalam kandungan.

Husain mungkin hanya membawa ember semen.

Namun dari ember kecil itu, ia mengirim pesan besar:

Jangan biarkan sebuah lubang menjadi jalan menuju korban berikutnya.

Dan kepada seluruh wakil rakyat serta masyarakat Sulawesi Utara, jangan biarkan kepedulian Husain berhenti sebagai kisah yang viral sehari. Kawal sampai jalan itu benar-benar diperbaiki.
Sebab keselamatan rakyat bukan belas kasihan.

Itu adalah tanggung jawab negara.

Husain mungkin hanya membawa ember semen dan sebuah bentor.
Tetapi hari itu, ia membawa suara yang jauh lebih besar:

Kalau warga saja peduli terhadap keselamatan sesamanya, pemerintah seharusnya lebih dulu hadir.”

Kini tinggal satu pertanyaan yang harus dijawab:

Akankah pemerintah datang sebelum korban berikutnya jatuh?

Pos terkait