NEFANEWS.COM, Bolmong – Kebakaran yang melanda Pasar Inobonto, Kecamatan Bolaang, pada Minggu (2/8/2026), tidak hanya meninggalkan puing-puing bangunan dan kerugian miliaran rupiah bagi para pedagang. Peristiwa itu juga kembali membuka persoalan klasik yang selama ini dihadapi Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow, yakni keterbatasan armada pemadam kebakaran untuk melayani wilayah yang sangat luas.
Saat kobaran api melahap enam kios dan sekitar 35 lapak pedagang ikan, masyarakat mempertanyakan cepat atau lambatnya respons petugas pemadam. Di tengah sorotan tersebut, pemerintah daerah menjelaskan bahwa kemampuan armada yang dimiliki memang masih jauh dari ideal.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bolaang Mongondow, Zulfadli Binol, mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah daerah hanya mengoperasikan tiga unit mobil pemadam kebakaran yang harus melayani seluruh wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow yang terdiri dari 15 kecamatan dengan kondisi wilayah yang berjauhan.
Kondisi itu membuat strategi penempatan armada menjadi sangat penting. Dua unit mobil pemadam ditempatkan di wilayah Passi Bersatu dan Dumoga Bersatu agar waktu tempuh menuju lokasi kejadian dapat dipersingkat.
“Penempatan armada di luar pusat pemerintahan dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih cepat menjangkau berbagai wilayah,” ujar Zulfadli, Senin (3/8/2026).
Namun tantangan tidak berhenti di situ. Sehari sebelum kebakaran Pasar Inobonto terjadi, salah satu armada mengalami kerusakan ketika bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kelurahan Inobonto. Akibatnya, armada tersebut tidak dapat kembali dioperasikan saat kebakaran pasar terjadi.
Dalam beberapa hari terakhir, personel Damkar Bolmong juga harus menangani berbagai kejadian secara beruntun, mulai dari kebakaran rumah, kebakaran hutan dan lahan, hingga kebakaran pasar. Intensitas kejadian yang meningkat di tengah musim kemarau turut menguras kemampuan personel maupun peralatan.
Meski demikian, upaya pemadaman tetap dilakukan secara maksimal. Satu unit mobil Damkar dari Pos Passi diterjunkan ke lokasi, kemudian mendapat dukungan dari dua unit mobil pemadam milik Pemerintah Kota Kotamobagu, satu unit Water Cannon Kompi Brimob Inuai, serta satu unit mobil pemadam milik PT Conch. Kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi faktor penting dalam mengendalikan kobaran api agar tidak meluas.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas di lapangan, tetapi juga pada ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan wilayah yang luas serta tingkat kerawanan kebakaran yang meningkat saat musim kemarau, kebutuhan akan penambahan armada dan penguatan sistem pelayanan pemadam kebakaran menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Pascakebakaran, Bupati Bolaang Mongondow Yusra Alhabsyi bersama Wakil Bupati Dony Lumenta menyampaikan keprihatinan kepada para pedagang terdampak. Pemerintah daerah menginstruksikan organisasi perangkat daerah terkait untuk segera mendata korban, menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, serta menyiapkan langkah-langkah penanganan lanjutan.
Di sisi lain, pemerintah kembali mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, memastikan instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha dalam kondisi aman, serta segera melaporkan setiap potensi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin.
Kebakaran Pasar Inobonto menjadi pelajaran bahwa upaya mitigasi bencana membutuhkan dukungan semua pihak. Selain kesiapsiagaan masyarakat, penguatan kapasitas layanan pemadam kebakaran juga menjadi bagian penting untuk meminimalkan risiko dan dampak kebakaran di masa mendatang. **










